Mobiltoyotasurabaya.com – Industri pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menunjukkan geliat positif seiring meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke destinasi unggulan seperti Labuan Bajo, Pulau Komodo, Flores, hingga Sumba. Keindahan alam, kekayaan budaya, dan promosi wisata yang masif menjadikan NTT sebagai magnet baru pariwisata Indonesia. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul persoalan serius yang perlu di waspadai, yakni maraknya agen wisata ilegal yang beroperasi tanpa izin resmi.
Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTT pun angkat suara. Organisasi yang menaungi biro perjalanan resmi ini mengingatkan para wisman agar lebih berhati-hati dalam memilih agen perjalanan selama berlibur di NTT. Keberadaan agen wisata ilegal di nilai tidak hanya merugikan wisatawan, tetapi juga mencederai iklim pariwisata yang sehat dan berkelanjutan di daerah tersebut.
Maraknya Agen Wisata Ilegal di Destinasi Favorit
Fenomena agen wisata ilegal bukanlah hal baru, namun dalam beberapa waktu terakhir jumlahnya semakin meningkat seiring melonjaknya kunjungan wisatawan ke NTT. Agen-agen ini kerap memanfaatkan media sosial, platform pesan instan, hingga promosi dari mulut ke mulut untuk menawarkan paket wisata dengan harga yang jauh lebih murah di bandingkan agen resmi. Tawaran tersebut sering kali tampak menggiurkan, terutama bagi wisatawan yang ingin menekan biaya perjalanan.
Namun di balik harga murah tersebut, tersembunyi berbagai risiko. Ketua ASITA NTT mengungkapkan bahwa banyak agen ilegal tidak memiliki izin usaha. Tidak terdaftar secara hukum, serta tidak mematuhi standar keselamatan dan pelayanan. Akibatnya, wisatawan berpotensi mengalami kerugian, mulai dari pembatalan sepihak, fasilitas yang tidak sesuai janji, hingga masalah keselamatan saat melakukan aktivitas wisata seperti pelayaran atau trekking.
Risiko Besar yang Mengintai Wisatawan Mancanegara
Wisatawan mancanegara menjadi sasaran empuk agen wisata ilegal karena minimnya pengetahuan mereka terhadap regulasi lokal. Banyak wisman tidak mengetahui perbedaan antara agen resmi dan tidak resmi, sehingga mudah tergoda oleh penawaran cepat dan murah. Dalam beberapa kasus, wisman bahkan tidak mendapatkan asuransi perjalanan, pemandu bersertifikat. Maupun izin masuk kawasan konservasi yang di wajibkan oleh pemerintah.
ASITA NTT mencatat sejumlah kejadian di mana wisatawan mengalami pengalaman buruk akibat menggunakan jasa agen ilegal. Mulai dari kapal wisata yang tidak layak laut, pemandu tanpa kompetensi, hingga pungutan tambahan di luar kesepakatan awal. Kondisi ini tidak hanya merugikan wisatawan secara materi. Tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan mereka dan merusak citra pariwisata Indonesia di mata dunia.
Peran ASITA dan Upaya Edukasi Wisatawan
Sebagai organisasi resmi, ASITA NTT terus berupaya melakukan edukasi kepada wisatawan dan pelaku industri pariwisata. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan mengimbau wisatawan agar selalu menggunakan jasa agen perjalanan yang terdaftar dan memiliki legalitas jelas. Wisatawan juga di sarankan untuk mengecek keanggotaan ASITA atau izin usaha biro perjalanan sebelum melakukan transaksi.
Selain itu, ASITA NTT aktif berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum. Dan pengelola destinasi untuk menekan aktivitas agen wisata ilegal. Edukasi juga di berikan kepada masyarakat lokal agar tidak terlibat dalam praktik percaloan atau menjadi perantara agen ilegal. Menurut ASITA, pariwisata yang sehat hanya bisa terwujud jika semua pihak berkomitmen pada aturan dan etika usaha.
Menjaga Citra Pariwisata NTT yang Berkelanjutan
Keberadaan agen wisata ilegal bukan hanya persoalan bisnis semata, tetapi juga menyangkut masa depan pariwisata NTT. Jika praktik ini di biarkan, kepercayaan wisatawan terhadap destinasi unggulan seperti Labuan Bajo dan Pulau Komodo bisa menurun. Padahal, pemerintah pusat dan daerah tengah mendorong NTT sebagai destinasi super prioritas yang berkelas dunia.
ASITA NTT menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan harus di bangun di atas profesionalisme, keamanan, dan kenyamanan wisatawan. Dengan memilih agen wisata resmi, wisatawan turut berkontribusi dalam mendukung pelaku usaha lokal yang taat aturan serta menjaga kelestarian alam dan budaya setempat. Oleh karena itu, kewaspadaan wisatawan menjadi kunci penting dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang adil, aman, dan berdaya saing tinggi.
