Mobiltoyotasurabaya.com – Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sangat bergantung pada transportasi udara untuk menghubungkan berbagai wilayahnya. Namun menjelang libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), pemerintah menghadapi masalah serius terkait ketersediaan armada pesawat yang bisa beroperasi. Situasi ini menjadi perhatian publik, karena bisa berdampak langsung pada mobilitas masyarakat saat liburan. Kekurangan pesawat bukan sekadar angka di statistik, melainkan risiko nyata bagi kelancaran perjalanan dan kenyamanan penumpang. Permintaan perjalanan udara selalu meningkat signifikan pada musim liburan panjang, termasuk Nataru. Namun, sejumlah maskapai nasional saat ini masih menghadapi tantangan dalam menjaga jumlah armada yang siap terbang.
Secara konkret, dari total sekitar 560 pesawat yang di miliki maskapai nasional, hanya sekitar 366 unit yang siap di gunakan untuk penerbangan komersial. Sisanya, yakni sekitar 194 pesawat, masih dalam proses perawatan atau dalam kondisi tidak layak terbang. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun secara kuantitatif jumlah armada terlihat mencukupi, kenyataannya banyak pesawat yang tidak bisa dioperasikan ketika permintaan melonjak. Keadaan ini membuat proyeksi ketersediaan armada menjadi sangat rawan, terutama jika terjadi lonjakan mendadak pada arus penumpang selama liburan panjang. Para ahli penerbangan menekankan bahwa masalah kekurangan armada ini bukan hanya soal jumlah, tetapi juga distribusi pesawat yang tidak merata ke berbagai rute domestik.
Persiapan Nataru 2025/2026 Target vs Realitas
Menjelang liburan panjang Nataru, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) dan Kementerian Perhubungan telah melakukan perhitungan terkait kebutuhan armada untuk mengakomodasi lonjakan penumpang. Berdasarkan perhitungan, di butuhkan sekitar 326 pesawat untuk melayani seluruh perjalanan domestik dan internasional. Dari jumlah ini, sekitar 286 pesawat adalah pesawat jet, sedangkan 40 sisanya adalah pesawat propeller. Rencana ini sekaligus menjadi upaya pemerintah menjaga arus mobilitas masyarakat tetap lancar selama libur Nataru. Selain itu, Kemenhub juga menyiapkan posko pemantauan penerbangan yang akan aktif dari 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, mencakup 257 bandara di seluruh Indonesia. Posko ini bertujuan untuk memantau pergerakan pesawat, mengantisipasi penumpukan penumpang, serta memastikan keselamatan dan ketertiban lalu lintas udara.
AirNav Indonesia juga memperkirakan bahwa pergerakan pesawat selama Nataru akan mencapai 76.972 pergerakan. Meningkat sekitar 3,5 persen di bandingkan periode Nataru sebelumnya. Puncak arus keberangkatan di prediksi terjadi pada tanggal 19–20 Desember 2025, sementara puncak arus balik di perkirakan pada tanggal 3–4 Januari 2026. Prediksi ini menjadi dasar bagi pemerintah dan operator penerbangan untuk menyiapkan langkah antisipasi. Namun, jika armada tidak cukup atau distribusi pesawat tidak optimal, prediksi pergerakan ini bisa berubah menjadi skenario keterlambatan massal dan penumpukan penumpang di bandara. Kendati pemerintah telah melakukan berbagai persiapan, sejumlah pihak menilai bahwa target 326 pesawat hanya akan realistis jika semua pesawat benar-benar siap beroperasi.
Ancaman “Getahnya” bagi Liburan Nataru
Kekurangan armada pesawat jelas memiliki konsekuensi nyata bagi masyarakat. Dengan jumlah pesawat yang terbatas, kemungkinan terjadinya keterlambatan penerbangan, pembatalan, dan habisnya kursi di beberapa rute padat menjadi sangat besar. Kondisi ini bisa membuat perencanaan liburan menjadi kacau, khususnya bagi mereka yang merencanakan pulang kampung atau melakukan perjalanan jauh menggunakan moda transportasi udara. Dampaknya tidak hanya pada ketidaknyamanan penumpang, tetapi juga pada ekonomi lokal yang bergantung pada arus wisatawan selama musim liburan. Selain itu, kekurangan armada juga bisa memicu lonjakan harga tiket. Meskipun pemerintah sudah mengumumkan berbagai insentif, seperti pengurangan PPN untuk tiket kelas ekonomi, pengurangan biaya layanan bandara, dan penurunan harga avtur di 37 bandara, risiko harga tiket tetap bisa meningkat jika armada tidak mencukupi.
Jika masalah ini tidak di tangani dengan cepat, masyarakat bisa menghadapi pengalaman liburan yang mengecewakan, termasuk antre panjang di bandara, keterbatasan kursi, dan layanan yang tidak optimal. Lonjakan penumpang yang tidak di imbangi dengan armada memadai dapat menjadi masalah sistemik bagi transportasi udara Indonesia. Oleh karena itu, kesiapan armada menjadi faktor kunci yang menentukan kelancaran dan kenyamanan liburan Nataru 2025/2026. Selain risiko penumpang, operator penerbangan juga menghadapi tekanan besar untuk menjaga jadwal tetap lancar. Kurangnya armada berarti maskapai harus melakukan perencanaan rute dan alokasi pesawat dengan sangat hati-hati agar tidak terjadi bottleneck. Jika gagal mengantisipasi hal ini, maka dampak negatif tidak hanya dirasakan oleh penumpang. Tetapi juga oleh maskapai dan bandara, karena reputasi layanan bisa menurun.
Upaya dan Solusi Apa yang Perlu Dilakukan
Pemerintah dan operator penerbangan telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi lonjakan penumpang Nataru. Selain menyiapkan 326 pesawat, pemerintah membuka posko pemantauan penerbangan dan bekerja sama dengan AirNav Indonesia untuk memastikan kelancaran navigasi udara. Insentif tarif, seperti diskon tiket ekonomi dan pengurangan biaya layanan bandara. Di harapkan dapat membantu menekan lonjakan harga tiket serta menjaga keterjangkauan transportasi udara bagi masyarakat. Namun, upaya pemerintah harus di dukung dengan pengawasan ketat agar maskapai tidak menaikkan tarif secara berlebihan. Selain itu, peremajaan armada harus di percepat, sementara data kesiapan pesawat dan distribusi rute perlu di buka secara transparan.
Hal ini penting agar masyarakat dapat merencanakan perjalanan. Dengan lebih bijak dan untuk meminimalisir risiko keterlambatan atau penumpukan penumpang di bandara. Langkah-langkah ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa libur panjang Nataru 2025/2026 tetap lancar dan aman bagi seluruh penumpang. Jika semua pihak dapat berkoordinasi dengan baik, kekurangan armada dapat di minimalisir, sehingga risiko gangguan perjalanan udara saat Nataru dapat di tekan. Meski jumlah pesawat terbatas, langkah antisipatif seperti posko pemantauan, distribusi armada optimal, dan insentif harga bisa menjadi solusi jangka pendek. Namun, pemerintah juga perlu memikirkan strategi jangka panjang. Termasuk investasi armada baru dan peningkatan kapasitas bandara, agar masalah kekurangan pesawat tidak terulang di musim liburan berikutnya.